“Kita menyadari bahwa tidak ada satu pun lembaga atau negara yang mampu menghadapi bencana sendirian. Penanggulangan bencana membutuhkan sinergi, kolaborasi, dan dukungan lintas negara,” ungkap Brigjen Edi.
Lebih lanjut, Direktur Latihan menjelaskan bahwa wilayah Bayah, Lebak, Banten, dipilih sebagai lokasi latihan karena memiliki potensi bencana yang tinggi. Berdasarkan hasil kajian geologi, terdapat kemungkinan terjadinya gempa bumi dengan kekuatan hingga 9,1 skala Richter, yang berpotensi memicu tsunami. Oleh sebab itu, latihan ini dirancang untuk mensimulasikan berbagai langkah tanggap darurat, mulai dari evakuasi korban, penanganan medis, hingga pemulihan pascabencana.
Sementara itu, Brigjend Dean Thompson, Komandan Komponen Darat Gabungan dalam sambutannya mengatakan, “Australia dan Indonesia melaksanakan lebih dari 20 latihan bilateral dan multilateral setiap tahunnya. Yang membuat Bhakti Kanyini Ausindo 2025 istimewa adalah keterlibatan lembaga-lembaga tanggap darurat sipil tingkat nasional dan regional, serta yang paling penting, partisipasi langsung dari masyarakat setempat.”













