Kondisi tersebut sudah berlangsung cukup lama. Sungai yang membelah wilayah itu menjadi satu-satunya jalur tercepat bagi warga untuk menuju pusat aktivitas seperti ke pasar, sawah, sekolah, hingga ke tempat kerja.
Namun situasi berubah ketika musim hujan datang. Debit air sungai yang meningkat dan arus yang semakin deras membuat penyeberangan menjadi berbahaya. Dalam kondisi seperti itu, warga tidak punya pilihan selain mengambil jalur lain yang lebih aman. Sayangnya, jalur alternatif tersebut tidaklah dekat. Warga harus memutar hingga lebih dari lima kilometer.
Melihat kondisi tersebut, Sarmin berharap, pembangunan Jembatan Perintis Garuda dapat segera terealisasi. Ia meyakini jembatan tersebut tidak hanya membuka akses yang selama ini terputus, tetapi juga menjadi penggerak untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik.












