Penelitian menunjukkan QRIS memberi kemudahan, kecepatan, fleksibilitas, dan memperluas partisipasi tanpa batas ruang dan waktu. Namun digitalisasi tidak menggantikan praktik konvensional. Di Garut, transformasi berlangsung hybrid dan multichannel.
Keberhasilan digitalisasi filantropi tidak diukur dari jumlah transaksi, tetapi dari sejauh mana teknologi mampu menjaga nilai: keikhlasan, kepedulian, ukhuwah, kepercayaan, amanah, transparansi, dan kemaslahatan sosial.
Kebaruan penelitian ini terletak pada gagasan “Ekosistem Filantropi Digital Berbasis Lembaga” dan model “Inclusive Multi-Channel Philanthropy” — digitalisasi yang memperluas akses tanpa memutus tradisi, meningkatkan efisiensi tanpa menghilangkan spiritualitas.
“Agama dalam masyarakat digital tidak harus kehilangan substansinya hanya karena medianya berubah. Teknologi bukan menggantikan agama, melainkan menjadi sarana baru mengartikulasikan nilai-nilai agama. Ini adalah mekanisme survival agama melalui adaptasi,” tegas Ridwan saat memepertahankan didertasinya.













