BANDUNG – Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang dilaksanakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2019 menunjukan bahwa tingkat literasi dan inklusi keuangan kelompok pelajar usia 15-17 tahun di Indonesia masih tergolong rendah.
Hal ini menunjukan bahwa belum banyak pelajar di Indonesia yang telah memanfaatkan produk atau layanan keuangan.
Padahal, menurut Direktur Utama bank bjb Yuddy Renaldi, akses terhadap layanan memiliki peran penting dalam meningkatkan taraf hidup serta mewujudkan kemandirian ekonomi.
Untuk itu, lanjut Yuddy, bank bjb memiliki komitmen untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di kalangan pelajar dengan berbagai program.
Salah satu langkah yang tengah didorong adalah membantu menyukseskan program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) yang diinisiasi OJK bekerjasama dengan perbankan di Indonesia.













