Anatomi Ketakutan di Ruang Publik
Bayangkan pagi hari di Bandung. Anda terjebak dalam lautan kendaraan di Jalan Asia Afrika atau Pasteur. Studi Dinas Perhubungan Bandung mencatat tingkat kemacetan di ruas-ruas utama telah mencapai titik jenuh pada jam sibuk. Kemacetan bukan sekadar soal waktu yang terbuang; ia adalah biang keladi polusi, stress, dan hilangnya produktivitas. Namun, yang lebih mengerikan adalah ketika malam tiba, kemacetan berganti dengan ketakutan.
Data kepolisian mengungkap fakta mencengangkan: pemicu utama aksi pembegalan adalah konsumsi minuman keras, penyalahgunaan obat, dan utang akibat judi online.
Ini bukan lagi sekadar kejahatan jalanan; ini adalah gejala dari sebuah krisis moral yang dalam. Anak-anak muda, yang seharusnya menjadi tulang punggung masa depan, terjerat dalam pusaran gaya hidup instan dan tekanan lingkungan, kehilangan logika dan keberanian kolektif di dalam kerumunan. Mereka bukan lahir sebagai penjahat, mereka dibentuk oleh proses panjang yang melibatkan keluarga, sekolah, lingkungan, dan masyarakat yang gagal memberikan benteng moral yang kokoh.













