KAB. BANDUNG || bedanews.com — Terpaksa menjual TV satu-satunya untuk membeli seragam dan perlengkapan sekolah anak, daripada pinjam ke Bank Emok atau ke Renternir kata Mimin, warga Soreang, mending jual barang yang ada. Banda mah tatalang raga (kekayaan itu hanya pelengkap).
“Mudah-mudahan besok lusa ada rezekinya kami, agar bisa membeli TV kembali,” katanya di Pasar Soreang, Minggu 17 Juli 2022.
Selain Mimin, ada juga warga yang menjual atau menggadaikan perhiasan emas yang semata-mata hanya untuk membeli perlengkapan sekolah anak yang mulai masuk Senin besok, 18 Juli 2022, seperti diakui Yuli, warga Banjaran, sengaja datang ke Soreang.
Sepertinya Mimin, ia (Yuli), tidak mau menjadi nasabah Bank Emok atau Renternir. Prosesnya pinjamannya itu, menurutnya sangat mudah. Cuma pembayarannya saja yang kadangkala seperti tidak berprikemanusiaan, harus ada dan wajib bayar. Masih mending renternir yang bersifat personal, bisa lewat dulu kalau tak punya uang. Tapi tetap saja itu masih termasuk Riba.
“Kalau Bank Emok mah, tidak ada toleransi sama sekali. Tidak boleh ada alasan dan tidak mau mendengar kesusahan nasabahnya,” ujar Yuli.
Mimin dan Yuli bukan korban bank emok atau renternir, menurut pengakuan mereka berdua, barang yang ada dulu saja jual atau digadaikan sementara waktu. Sebab kebutuhan sekolah anak itu menjadi prioritas.***













