Melalui model ini, nantinya akan ada tolok ukur yang jelas dalam menentukan, apakah suatu daerah telah masuk dalam konteks toleran atau tidak.
“Kami sudah punya ukuran jelas. Jika misal Jawa Barat dinilai intoleran kita siap memperbaiki, aspeknya apa aja. Mana yang harus di-push, kurang apa saja. Kita perlu kalau kurang kurangnya itu apa. Supaya tak kurang lagi,” ucapnya.
Kepala Bidang Politik Dalam Negeri Kesbangpol Jabar Ruliadi menambahkan, melalui uji instrumen yang dilakukan di tiga kota/kabupaten, mewakili urban, sub-urban dan urban yakni Kota Bandung, Kota Depok dan Kabupaten Tasikmalaya, didapati ada tiga variabel yaitu diskriminasi, tanpa kekerasan serta inklusivitas.
Dari tiga variabel ini, menghasilkan sejumlah indikator.
Variabel diskriminasi menghasilkan indikator moderasi beragama, indikator keadilan beragama dan keyakinan serta indikator relasi agama dan negara.













