Gedung-gedung yang dibangun di IKN tidak dapat dinikmati seluruh rakyat, tapi dimiliki oleh investor yang berkantong tebal. Sementara rakyat biasa tetap hanya menempati rumah yang sangat sederhana bahkan masih banyak rakyat yang tidak punya rumah hingga terpaksa tidur di gerobak atau emperan jalan.
Pemindahan Ibu Kota dalam Islam
Pemindahan ibu kota dalam sistem Kapitalisme hanya fokus pada pembangunan dan investasi, tapi abai terhadap rakyat. Hal ini berbeda dengan sistem Islam. Dalam Islam, ibu kota negara boleh untuk pindah.
Saat Islam diterapkan selama berabad-abad, pernah beberapa kali pindah ibu kota. Namun, pemindahan ibu kota tersebut tidak menghabiskan banyak anggaran negara. Tempat yang dijadikan ibu kota baru tidak dibangun tiba-tiba, melainkan sudah dibangun sebelumnya.
Dalam Islam, dengan sistem keuangannya kas negara mampu mendapatkan penerimaan yang besar. Pemasukan negara berasal dari beberapa pos, seperti zakat, jizyah, fai, kharaj, ghanimah, pengelolaan sumber daya alam, dan lain sebagainya, dapat digunakan negara untuk menyejahterakan rakyat. Tidak terkecuali untuk membangun fasilitas umum di berbagai kota, tidak hanya berpusat di satu kota. Hal ini menjadikan kota-kota di negara Islam maju.













