Bandung, BEDAnews
Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (FTMD ITB), melalui Ikatan Alumni Mesin (IAM), mendorong pemerintah menarik para produsen agar berproduksi di Indonesia. Selain itu, mulai 2013 nanti IAM akan mengkampanyekan kepada masyarakat agar menggunakan produk yang memiliki kontribusi bagi negeri sendiri.
“Nama gerakannya Indonesianisme industri. Kita kampanyekan gerakan cinta Indonesia dalam bentuk product knowledge, berupa informasi detail produk. Kita dorong bangsa ini agar lebih memihak kepada produsen yang berkontribusi kepada Indonesia,” jelas Ketua IAM ITB, Gembong Primajaya kepada wartawan, Selasa, (2/10).
Menurut Gembong, IAM sebagai garda terdepan insinyur di Indonesia berupaya agar masyarakat lebih melek terhadap produk milik produsen Indonesia, yang dirancang bangun dan diproduksi di Indonesia. Bisa juga memakai produk merek apa saja, yang penting produk Indonesia. Jika masyarakat memakai produk merek yang tidak diproduksi di Indonesia, yang penting memproduksinya di Indonesia.
“Tahap awal kampanye dilalukan di kalangan FTMD ITB dan alumninya. Setelah itu secara massif kepada masyarakat . Pokoknya mulai 2013 kita lakukan perubahan di dunia industri,” tandas Gembong.
Dijelaskan, IAM kini mulai menyusun daftar produk dalam bentuk web base atau melalui internet dan media sosial, yang sesuai dengan prinsip Indonesianisme. sehingga akan menggema ke seluruh nusantara, dan IAM ITB sebagai motor penggeraknya.
Gembong berharap, dengan kampanye ini pemerintah dapat melihat apa yang dibutuhkan masyarakat selaku pengguna akhir sebuah produk. “Ini akan menghasilkan regulasi yang lebih memihak masyarakat dan produk dalam negeri pada khususnya,” harap Gembong.
Kampanye Indonesianisme, lanjut Gembong, ditujukan agar bangsa Indonesia bisa menghasilkan, merancangbangun, dan memproduksi sendiri sebagian besar kebutuhannya. Untuk mencapai target itu, dibutuhkan banyak engineer kreatif dalam membuat produk atau jasa maupun sistem bagi bangsanya sendiri. ”Jika produk dibuat di Indonesia oleh putra bangsa sendiri, harganya pun bisa lebih murah,” yakin Gembong.
Ketua Panitia September M ITB, Adrian Tisna menambahkan, untuk menjamin ketersediaan engineer, pemerintah tak cukup hanya menyediakan fasilitas pendidikan, tapi juga lapangan berkarya bagi para insinyur. “Indonesia sedang bergerak ke arah negara industry, dan menjadi tempat yang menarik bagi para usahawan maupun industri manufaktur. Kita meminta mereka yang hendak menjual produk di sini berkontribusi lebih,” papar Adrian.
Dalam rangkaian kegiatan September M ini, pihaknya juga merumuskan rekomendasi kurikulum baru untuk FTMD ITB, agar bisa sinkron antara kalangan pendidikan, pemerintah sebagai regulator, dunia industry, dan masyarakat pengguna. “Kurikulum baru ini pun dalam rangka membangun industry nasional yang mandiri, tanpa mengandalkan industri luar,” pungkas Adrian. (har)











