Oleh: Dr. (C.) K.H.M. Rofik Mualimin, Lc., M.Pd.I.
YOGYAKARTA || Bedanews.com – Pernahkah Anda berdiri di persimpangan jalan kota besar saat sore hari, ketika pengeras suara dari balik kubah masjid memantulkan ceramah bertema surga dan neraka dengan volume maksimal? Suaranya membelah kebisingan knalpot, bernada tinggi, dan penuh tekanan. Namun, coba perhatikan wajah-wajah pengendara yang lelah di tengah kemacetan. Tak ada binar pencerahan, yang ada hanya tatapan kosong. Agama terasa hadir begitu riuh di ruang publik, tetapi entah mengapa, ia kerap gagal menyentuh dahaga spiritual yang paling mendasar.
Fenomena ini sejatinya memotret paradoks besar dalam dinamika beragama kita hari ini: dakwah begitu nyaring, tetapi jiwa-jiwa di dalamnya tetap terasa kosong.
Jika dirunut secara historis, retorika dakwah di Nusantara tidak selalu begini. Nusantara pernah mengenal corak Islamisasi yang sangat elok dan halus. Azyumardi Azra dalam Jaringan Ulama Middle East dan Kepulauan Nusantara XVI dan XVII: Melacak Akar-Akar Pembaruan Pemikiran Islam di Indonesia (Jakarta: Kencana, 2004, hlm. 35) mencatat bagaimana ulama masa lalu merangkul kebudayaan lokal tanpa sedikit pun menghakimi. Dakwah hadir sebagai peneduh, bukan sebagai hakim yang siap mengetukkan palu vonis atas dosa-dosa manusia.
Namun, modernitas dan arus media mengubah segalanya. Dalam ruang digital hari ini, dakwah kerap bergeser dari ruang perenungan menjadi sekadar performa. Sosiolog Jerman, Max Weber, dalam Wirtschaft und Gesellschaft* (Tรผbingen: J.C.B. Mohr, 1922, hlm. 140), pernah mengingatkan tentang bahaya rasionalisasi nilai, di mana agama lambat laun kehilangan energi kharismatiknya yang murni ketika terperangkap dalam rutinitas formalistik. Ketika dakwah diukur dari jumlah followers, viralitas, dan tingkat popularitas da’i, maka yang diutamakan adalah kemasan yang bombastis, bukan kedalaman isi.
Akibatnya, materi dakwah terjebak dalam ketaatan yang dangkal. Cendekiawan Muslim, M. Quraish Shihab, dalam Membumikan al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Bandung: Mizan, 1992, hlm. 112) menekankan bahwa pesan agama seharusnya menyentuh esensi moralitas dan keadilan, bukan sekadar simbolis belaka. Senada dengan itu, pemikir asal Mesir, Hassan Hanafi, lewat bukunya Min al-Aqidah ila al-Tsawrah (Kairo: Maktabah al-Madbuli, 1988, hlm. 78) menegaskan bahwa iman yang tidak berorientasi pada kesadaran sosial dan perbaikan kualitas kemanusiaan hanya akan menjadi teologi mati.
Ketika dakwah hanya sibuk mengurus kulit luarโseperti jargon hukum, tata cara pakaian, hingga perdebatan ritus yang tak kunjung usaiโia kehilangan daya transformatifnya. Clifford Geertz dalam The Religion of Java (Glencoe: The Free Press, 1960, hlm. 225), mengamati bagaimana penganut agama bisa terjebak dalam ritualitas fisik tanpa mengalami pengalaman sakral yang mengubah perilaku sehari-hari.
Inilah yang dialami masyarakat modern: mereka disoraki oleh dogmatisme yang kaku, tetapi dibiarkan kehausan akan makna hidup, ketenangan batin, dan rasa empati sosial. Sudah saatnya orientasi dakwah kita berhembus ke arah yang baruโbukan lagi berteriak di tengah kebisingan, melainkan bertutur jujur merangkul jiwa.***
Penulis adalah:
– Alumni Universitas Al-Azhar Kairo Mesir,
– Kandidat Doktor di Pascasarjana S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,
– Dosen STAI Yogyakarta,
– Pengasuh Pesantren Latifah Mubarokiyah Bantul,
– Ketua Yayasan Majma’ Bahrain Internasional,
– Ketua Harian Paguyuban Keluarga Pasir se-Dunia (PKPD),
– Penasihat Paguyuban Demak Bintoro Nusantara (PDBN).













