Bandung, Bedanews.com —
Ketua Umum Asosiasi Studi Agama Indonesia (ASAI) Prof.Deni Miharja, M.Ag menegaskan bahwa agama dan ekologi tidak bisa lagi dibicarakan secara terpisah. Keduanya bertemu dalam manuskrip Nusantara yang menyimpan memori intelektual tentang relasi manusia dengan alam.

Hal itu mengemuka dalam pembukaan Simposium Nasional ASAI bertema “Religious Studies and Ecological Issues in the Nusantara Manuscript: Past Influence and Future Challenge” Gedong Bodas, Kampus 2 UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Rabu, 19/8/2026.
“Kerusakan lingkungan terjadi bukan karena manusia tidak tahu. Kita punya data, teknologi, bahkan AI. Persoalannya adalah cara pandang. Ketika alam hanya dilihat sebagai sumber daya, maka ia dieksploitasi. Ketika alam dilihat sebagai ciptaan Tuhan dan amanah, maka hubungan kita berubah,” ujar Prof Deni.













