JAKARTA || Bedanews.com –
Implementasi ketahanan gempa pada rumah sakit menjadi bagian penting dalam mewujudkan Smart Hospital yang tidak hanya modern secara teknologi, tetapi juga mampu menjaga keselamatan dan keberlangsungan pelayanan
ketika bencana terjadi.
Gempa bumi dengan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali mengingatkan bahwa bencana dapat terjadi kapan saja dan berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, termasuk keberlangsungan layanan kesehatan di daerah terdampak.
Di tengah situasi darurat, rumah sakit bukan hanya menjadi tempat pelayanan medis, tetapi juga menjadi salah satu fasilitas yang paling dibutuhkan masyarakat. Karena itu, rumah sakit harus memiliki kesiapan untuk tetap menjalankan fungsi-fungsi kritis, terutama layanan Gawat Darurat, Intensive Care Unit (ICU), serta berbagai sistem pendukung yang memastikan pelayanan pasien tetap berjalan.
Indonesia merupakan negara yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) dengan aktivitas tektonik yang tinggi. Kondisi ini membuat risiko gempa menjadi salah satu aspek yang perlu diperhitungkan dalam pembangunan maupun pengelolaan fasilitas kesehatan.
Bagi rumah sakit, kesiapan menghadapi gempa bukan hanya berbicara mengenai kekuatan struktur bangunan, tetapi juga bagaimana seluruh sistem di dalamnya mampu tetap berfungsi ketika menghadapi kondisi yang tidak terduga.
*Membangun Rumah Sakit yang Selamat Menghadapi Gempa*
Melalui keterangannya, Jum’at (28/8), Ahli Teknik PTPI, Ir. Adi Utomo Hatmoko, M.Arch., IAI., AA, P.H.Eng, menjelaskan bahwa, ketahanan gempa pada rumah sakit tidak ditentukan hanya berdasarkan besar kecilnya magnitudo gempa yang mungkin terjadi, tetapi melalui klasifikasi risiko seismik serta pemenuhan persyaratan teknis bangunan.
Berdasarkan SNI 1726:2019 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Nongedung, rumah sakit termasuk dalam Kategori Risiko IV karena memiliki tingkat kepentingan yang tinggi dan dituntut untuk tetap berfungsi dalam kondisi darurat.
โBukan magnitudo. Dalam perencanaan bangunan digunakan klasifikasi kategori risiko seismik. Untuk rumah sakit digunakan Kategori Risiko IV dengan persyaratan mendetail terkait struktur, tanah, dan aspek lainnya,โ jelas Ir. Adi Utomo Hatmoko.
Selain struktur utama, kesiapan rumah sakit juga dipengaruhi oleh komponen nonstruktural dan utilitas kritis seperti gas medis, listrik, sistem komunikasi, serta peralatan pendukung pelayanan.
Untuk rumah sakit yang telah beroperasi, evaluasi terhadap bangunan eksisting diperlukan untuk mengetahui tingkat kesiapan menghadapi risiko gempa serta menentukan kebutuhan penguatan yang sesuai.
*Ketahanan Gempa sebagai Bagian dari Smart Hospital*
Ketahanan gempa merupakan salah satu persyaratan penting dalam mewujudkan Smart Hospital. Konsep Smart Hospital tidak hanya berbicara mengenai penerapan teknologi digital, tetapi juga mencakup kesiapan seluruh komponen pendukung rumah sakit, termasuk aspek bangunan dan infrastruktur.
Dalam konsep Smart Hospital, komponen bangunan menjadi salah satu elemen penting yang harus mampu mendukung terwujudnya rumah sakit yang selamat, bermutu, aman, ramah, terjangkau dan berkelanjutan.
*INAHEF 2026 Dorong Kesiapan Rumah Sakit Indonesia*
Upaya membangun rumah sakit yang lebih tangguh terhadap risiko bencana, menjadi salah satu pembahasan dalam International Healthcare Engineering Forum (INAHEF) 2026 yang akan diselenggarakan pada 17โ19 September 2026 di SMESCO Indonesia, Jakarta.
Sementara itu, Presiden PTPI, Prof. Ir. Dr.-Ing. Eko Supriyanto IPU, P.H.Eng menyampaikan bahwa, ketahanan fasilitas kesehatan terhadap bencana merupakan bagian penting dalam perjalanan menuju Smart Hospital.
โSmart Hospital bukan hanya tentang teknologi digital, tetapi bagaimana seluruh sistem rumah sakit mampu mendukung pelayanan yang selamat, bermutu, aman, ramah, terjangkau dan berkelanjutan. Ketahanan terhadap bencana menjadi salah satu aspek penting yang perlu dipersiapkan oleh rumah sakit di Indonesia,โ ujar Prof. Eko.
Melalui INAHEF 2026, pimpinan rumah sakit, pengelola fasilitas kesehatan, tenaga teknik rumah sakit, serta berbagai pemangku kepentingan dapat berdiskusi bersama ahli teknik perumahsakitan mengenai evaluasi struktur, rehabilitasi fasilitas eksisting, hihingga strategi pengembangan fasilitas kesehatan yang lebih siap menghadapi tantangan masa depan.
“Gempa NTT menjadi sebuah pengingat bahwa rumah sakit masa depan tidak hanya membutuhkan teknologi yang semakin maju, tetapi juga infrastruktur yang selamat, tangguh, dan mampu tetap hadir melayani masyarakat ketika kondisi paling sulit terjadi,” tandasnya. (Red).













