YOGYAKARTA || Bedanews.com – Gelak tawa riuh membahana di pelataran Balai Padukuhan Kandri, Sabtu, 15 Agustus 2026. Angin sore perbukitan Girisubo, Gunungkidul, yang biasanya membalut desa dengan keheningan, hari itu mendadak hangat. Semangat menyambut HUT ke-81 RI melebur jadi satu dalam perhelatan lomba anak-anak yang digelar oleh sembilan mahasiswa KKN Kelompok 4 STAI Yogyakarta.
Sabtu itu menandai hari ketiga pengabdian mereka. Di bawah komando Albi sebagai ketua kelompok, para mahasiswa bergerak lincah mengandangkan kelereng di atas sendok, memandu anak-anak merayap dengan karung, hingga menata balap makan kerupuk. Setiap jeritan girang dan langkah mungil anak-anak Kandri seolah menghidupkan sudut desa yang sepi.
Di sudut lapangan, sosok pimpinan rombongan mengamati keseruan itu dengan senyum mengembang. Dialah Dr. (C) K.H.M. Rofik Mualimin, Lc., M.Pd.I., Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) yang juga Pengasuh Pesantren Latifah Mubarokiyah Bantul. Tokoh akademisi dan ulama muda yang akrab disapa Gus Rofik ini memosisikan dirinya bukan sekadar pembimbing formal, melainkan pengayom yang menyatu dengan warga.
“Keceriaan anak-anak ini adalah pilar energi desa. Melalui lomba sederhana, mahasiswa belajar menyelami dinamika sosial masyarakat dari hal terdekat,” ujar Gus Rofik di sela-sela riuhnya perlombaan.
Antusiasme warga terpancar jelas. Dukuh Kandri, Nur Harningsih, yang hadir mendampingi jalannya acara, mengapresiasi kejelian mahasiswa menggaet simpati warga sejak awal kedatangan. Kehadiran sembilan mahasiswa ini dinilai memberi warna baru dan angin segar bagi interaksi sosial di wilayahnya.
Tak berhenti pada gelak tawa sore hari, agenda hari ketiga berlanjut saat petang berlabuh. Ruang pertemuan padukuhan berganti suasana ketika ibu-ibu Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Padukuhan Kandri berkumpul. Inilah momen krusial bagi Kelompok 4 STAI Yogyakarta untuk memaparkan seluruh rencana program kerja mereka selama masa KKN.
Dengan gaya bertutur yang lugas dan santun, Albi bersama rekan-rekannya membeberkan peta jalan kegiatan. Mulai dari pendampingan keagamaan, pemberdayaan ekonomi warga, hingga penguatan literasi masyarakat desa disajikan secara komunikatif. Ibu-ibu PKK menyimak serius, sesekali mengangguk tanda sepakat, lalu melempar pertanyaan hangat yang langsung mencairkan suasana.
Dukungan penuh mengalir tanpa henti. Nur Harningsih menegaskan keberadaan mahasiswa KKN bukan sekadar pengisi tugas kampus, melainkan mitra nyata pembangunan desa. Warga Kandri siap membuka pintu lebar-lebar untuk berkolaborasi.
Malam kian larut di Girisubo. Sorak-sorai perlombaan sore hari mungkin telah usai, namun jejak kehangatan dan komitmen pemaparan program kerja malam itu baru saja dimulai. Di Padukuhan Kandri, semangat kemerdekaan tak cuma dirayakan lewat bendera yang berkibar, melainkan lewat rajutan kebersamaan antara mahasiswa dan warga yang bertekad melangkah bersama. (MRM/Red)













