Oleh: Dr. H. Ahmad Fahrur Rozi (Ketua PBNU Bidang Keagamaan)
SEMARANG || Bedanews.com – Saya mengenal Gus Yusuf sebagai adik kelas di MHM Lirboyo, terpaut dua tingkat. Dalam pergaulan, ia pribadi yang tenang. Tidak gemar membuat kegaduhan, tetapi tekun bekerja dan memilih menunjukkan kesungguhannya melalui hasil, bukan sekadar kata-kata.
Ia lahir dari keluarga kiai besar. Namun, nama besar itu tidak dijadikannya alasan untuk merasa cukup. Ia membangun dirinya dengan kerja keras, kesabaran dan pengabdian. Di situlah watak seorang santri diuji: bukan sekadar ingin dikenal, melainkan berusaha agar kehadirannya benar-benar membawa manfaat.
Gus Yusuf tumbuh dari rahim pesantren. Ia memahami bahwa pesantren bukan hanya tempat belajar kitab, melainkan tempat seseorang ditempa untuk mandiri, menghormati ulama, hidup sederhana, dekat dengan masyarakat dan siap melayani umat. Karena itu, perhatiannya terhadap pendidikan pesantren terasa sebagai panggilan hati, bukan sekadar agenda organisasi.













