• DISCLAIMER
  • PEDOMAN MEDIA CYBER
  • TENTANG KAMI
  • REDAKSI
  • Contact Us
Sabtu, November 7, 2026
  • Login
Bedanews
Advertisement
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
Bedanews
No Result
View All Result

Home » PERANG IRAN–AS: JALAN MENUJU INDONESIA EMAS ATAU INDONESIA CEMAS?

PERANG IRAN–AS: JALAN MENUJU INDONESIA EMAS ATAU INDONESIA CEMAS?

Asep Budi by Asep Budi
23 Juli 2026
in Ragam
0
0
SHARES
1
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

 

Oleh: Mayjen TNI (Purn) Fulad (Penasihat Militer RI untuk PBB 2017–2019)

JAKARTA || Bedanews.com –
Pendahuluan

Banyak bangsa dalam sejarah tidak runtuh karena kalah berperang. Mereka runtuh karena gagal membaca arah perubahan zaman.

BeritaTerkait

Optimalkan Pemanfaatan Tanah, Plh. Dirjen PPTR: Manfaat Nyata untuk Masyarakat

7 November 2026

Pemuda Berdampak: Satukan Gagasan, Bangun Gerakan Menuju Deklarasi Wilayah Kota Cilegon

7 November 2026

Hari ini perhatian dunia tertuju ke Timur Tengah. Amerika Serikat dan Iran kembali berhadapan dalam konflik yang mengancam stabilitas kawasan. Selat Hormuz, jalur yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia, kembali berada dalam bayang-bayang eskalasi militer. Harga minyak melonjak, pasar keuangan bergejolak, dan jalur pelayaran internasional menghadapi ketidakpastian.

Sebagian orang mungkin menganggap semua itu jauh dari Indonesia.

Padahal justru sebaliknya.

Di era globalisasi, perang tidak lagi berhenti di garis depan. Ia menjalar melalui harga energi, rantai pasok, inflasi, nilai tukar, hingga ketahanan pangan. Getaran rudal yang ditembakkan ribuan kilometer dari Nusantara dapat terasa di dapur rakyat Indonesia melalui kenaikan harga beras, biaya transportasi, dan melemahnya daya beli masyarakat.

Karena itu, perang Iran–Amerika Serikat bukan sekadar persoalan Timur Tengah. Konflik ini adalah ujian bagi kesiapan Indonesia mewujudkan cita-cita besar Indonesia Emas 2045.

Pertanyaan strategisnya sederhana tetapi menentukan: apakah bangsa ini benar-benar sedang membangun Indonesia Emas, atau justru tanpa sadar sedang berjalan menuju Indonesia Cemas?

Perang Abad ke-21: Senjatanya Bukan Hanya Rudal

Banyak negara masih memandang perang sebagai bentrokan antara tank, kapal perang, dan pesawat tempur, Pandangan itu sudah usang.

Perang abad ke-21 adalah perang energi, teknologi, pangan, informasi, kecerdasan buatan, dan penguasaan rantai pasok global. Negara yang mampu mengendalikan energi akan memengaruhi ekonomi dunia. Negara yang menguasai teknologi akan menguasai masa depan. Negara yang bergantung pada impor akan menjadi pihak pertama yang merasakan dampak setiap gejolak geopolitik.

Selat Hormuz adalah contoh nyata. Jalur sempit itu menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Ketika kawasan tersebut terganggu, harga energi dunia langsung bergejolak.

Indonesia memang tidak berada di Teluk Persia.

Namun Indonesia berada di salah satu jalur maritim paling strategis di dunia. Sebagai negara kepulauan dengan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), kita akan ikut merasakan perubahan arus pelayaran, meningkatnya aktivitas kapal asing, sekaligus bertambahnya tantangan keamanan maritim.

Artinya, perang yang terjadi jauh di sana dapat mengubah dinamika keamanan di laut kita sendiri.

Indonesia Emas Tidak Akan Lahir dari Situasi Dunia yang Tidak Kita Antisipasi

Visi Indonesia Emas 2045 dibangun di atas optimisme bahwa Indonesia akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia.

Optimisme itu bukan sesuatu yang mustahil.

Namun optimisme tanpa kesiapan hanya akan menjadi slogan.

Indonesia masih bergantung pada impor minyak mentah dan berbagai komoditas strategis. Ketika harga energi melonjak, tekanan terhadap APBN meningkat. Ruang fiskal menyempit. Belanja produktif berpotensi dikurangi. Investasi melambat. Industri menghadapi kenaikan biaya produksi. Pada akhirnya masyarakatlah yang harus menanggung konsekuensinya.

Lebih mengkhawatirkan lagi, bonus demografi yang selama ini disebut sebagai modal utama menuju 2045 dapat berubah menjadi beban apabila pertumbuhan ekonomi melemah dan lapangan kerja tidak mampu menyerap jutaan tenaga kerja produktif.

Sejarah menunjukkan bahwa tidak sedikit negara kaya sumber daya justru gagal menjadi negara maju karena terlambat beradaptasi terhadap perubahan geopolitik.

Indonesia tidak boleh mengulangi kesalahan itu.

Empat Pilar Ketahanan Menuju Indonesia Emas

Menghadapi ketidakpastian global, Indonesia memerlukan langkah strategis yang berpijak pada kepentingan nasional.

*Pertama,* memperkuat ketahanan energi.

Ketergantungan terhadap energi impor harus dikurangi melalui peningkatan lifting migas nasional, modernisasi kilang, percepatan biodiesel, pengembangan panas bumi, serta pembangunan cadangan energi strategis. Negara yang mandiri energinya akan lebih tahan menghadapi gejolak geopolitik.

*Kedua,* memperkuat pertahanan maritim.

ALKI, Natuna, Selat Sunda, dan Selat Lombok merupakan jalur strategis yang harus diamankan. Kehadiran TNI AL, Bakamla, sistem pengawasan laut, radar pantai, dan patroli terpadu harus semakin diperkuat. Laut Indonesia tidak boleh menjadi celah bagi ancaman baru.

*Ketiga,* memperkuat diplomasi bebas dan aktif.

Indonesia memiliki modal politik yang sangat besar sebagai negara Muslim terbesar di dunia yang tetap diterima oleh berbagai kekuatan internasional. Modal ini harus dimanfaatkan untuk mendorong penyelesaian damai, memperkuat peran Indonesia sebagai mediator, dan menjaga kepentingan nasional di tengah rivalitas global.

*Keempat,* memperkuat ketahanan pangan nasional.

Perang modern membuktikan bahwa pangan sama strategisnya dengan senjata. Negara yang mampu memberi makan rakyatnya akan lebih kuat menghadapi krisis dibanding negara yang bergantung pada impor. Karena itu, pembangunan pertanian, irigasi, cadangan pangan, dan kesejahteraan petani harus dipandang sebagai investasi pertahanan negara.

Pelajaran Besar bagi Indonesia

Perang Iran–Amerika Serikat sesungguhnya menyampaikan satu pesan penting.

Dunia sedang memasuki era ketika ancaman terhadap sebuah negara tidak selalu datang melalui invasi militer. Ancaman dapat hadir melalui embargo energi, gangguan rantai pasok, serangan siber, manipulasi informasi, krisis pangan, hingga tekanan ekonomi.

Inilah wajah perang abad ke-21.

Jika Indonesia masih mempersiapkan diri menghadapi perang dengan cara berpikir abad ke-20, maka kita sedang berjalan di belakang sejarah.

Sebaliknya, apabila Indonesia mampu membangun ketahanan energi, memperkuat pertahanan maritim, mewujudkan swasembada pangan, menguasai teknologi, dan menjaga persatuan nasional, maka apa pun bentuk gejolak dunia, bangsa ini akan tetap berdiri tegak.

*Penutup*

Bangsa besar tidak diukur dari seberapa jauh letaknya dari medan perang.

Bangsa besar diukur dari seberapa siap menghadapi dampak perang.

Rudal yang meluncur di langit Timur Tengah mungkin tidak pernah jatuh di Jakarta. Namun gelombang kejutnya dapat menghantam APBN, ketahanan energi, harga pangan, stabilitas sosial, bahkan cita-cita Indonesia Emas.

Karena itu, ancaman terbesar bagi Indonesia bukanlah perang antara Iran dan Amerika Serikat.

Ancaman terbesar adalah apabila kita gagal membaca perubahan zaman dan terus merasa bahwa semua itu tidak ada hubungannya dengan kita.

Tahun 2045 tinggal sembilan belas tahun lagi. Dalam perjalanan sebuah bangsa, itu bukan waktu yang panjang.

Pilihan kita hanya dua.

Menjadi bangsa yang mempersiapkan diri sebelum krisis datang.

Atau menjadi bangsa yang baru belajar setelah krisis menghantam.

Sejarah tidak pernah menghukum bangsa yang miskin sumber daya.

Sejarah menghukum bangsa yang gagal membangun ketahanan ketika masih memiliki waktu.

Apabila hari ini kita mampu memperkuat energi, pangan, pertahanan, teknologi, dan diplomasi secara bersamaan, maka perang di Timur Tengah justru akan menjadi peringatan yang menyelamatkan Indonesia.

Tetapi apabila kita tetap terlena oleh rutinitas, konflik yang terjadi ribuan kilometer dari Nusantara dapat menjadi awal pudarnya mimpi besar Indonesia Emas 2045.

Pilihan itu tidak berada di Washington, Teheran, ataupun Tel Aviv.

Pilihan itu berada di tangan kita, hari ini. ***

Previous Post

Kebijakan Obligasi Daerah Pramono Superdahsyat: Dari Digagas Foke hingga Dimentahkan Jokowi

Next Post

TMMD Ke-129 Bawa Harapan Baru, Sumur Bor Dibangun untuk Warga Bokimaake

Related Posts

Ragam

Optimalkan Pemanfaatan Tanah, Plh. Dirjen PPTR: Manfaat Nyata untuk Masyarakat

7 November 2026
Ragam

Pemuda Berdampak: Satukan Gagasan, Bangun Gerakan Menuju Deklarasi Wilayah Kota Cilegon

7 November 2026
Ragam

Ekonomi Hijau Jadi Fokus Perencanaan Pembangunan Kalimantan Utara

7 November 2026
Ragam

DR. FACHRUL RAZI: PENYADAPAN PRESIDEN PRABOWO ADALAH MAKAR

7 November 2026
Ragam

KOGANA SUMUT DAN POLITEKNIK MEDAN JALIN MoU PENGEMBANGAN TEKNOLOGI KEBENCANAAN

6 November 2026
Ragam

Dugaan Menyadap Presiden Prabowo, Muslim Arbi: Listyo Sigit dan Gerombolannya Layak Dihukum Mati

6 November 2026
Next Post

TMMD Ke-129 Bawa Harapan Baru, Sumur Bor Dibangun untuk Warga Bokimaake

JDIH DPRD Kota Cimahi

LPKL

BEDA Itu pilihan

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA

MFC - Bedanews.com © 2021

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result

MFC - Bedanews.com © 2021