Oleh: A.Rusdiana
Momen kembali ke fitrah kali ini menjadi ujian kesabaran yang luar biasa, di mana: 1) Hujan bom menggantikan keceriaan kembang api di langit Teheran dan kota-kota strategis lainnya; 2) Keluarga terpisah dan tradisi mudik terhambat akibat penutupan wilayah udara dan ketidakpastian keamanan; 3) Ketegangan internal meningkat dengan adanya penangkapan ratusan orang yang dituduh sebagai mata-mata di tengah situasi yang kacau. Meskipun dalam kepungan konflik, doa-doa tetap dipanjatkan agar Idul Fitri membawa pesan perdamaian yang nyata, bukan sekadar jeda di antara serangan.
Idul Fitri Kali ini bukan sekadar hari raya. Ia adalah hari penyucian jiwa. Para ulama menjelaskan bahwa kata fitri berarti kembali kepada keadaan asli manusia yang bersih dari dosa. Dalam perspektif tasawuf, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali, makna Idul Fitri berkaitan erat dengan salah satu sifat Allah, yaitu Al-‘Afwu. Jika Al-Ghafur berarti menutup dosa, maka Al-‘Afwu berarti menghapus dosa hingga tidak tersisa bekasnya. Seperti noda yang dihapus hingga benar-benar hilang.













