Oleh: A.Rusdiana ( Guru Besar, Pakar, dan Motivator Pendidikan Nasional)
“Berpikir itu pelita hati, apabila dia padam, maka sirnalah cahaya terang dari hati itu.”-(Ibnu Athaillah)
“Apa yang saya saksikan di alam adalah sebuah tatanan agung yang tidak dapat kita pahami dengan sangat tidak menyeluruh, dan hal itu sudah semestinya menjadikan seseorang yang senantiasa berpikir dilingkupi perasaan rendah hati.-(Albert Einstein)
Salah satu perbedaan yang paling hakiki antara manusia dengan seluruh makhluk hidup lainnya adalah pada kemampuan manusia dalam menggunakan akalnya untuk berpikir. Setiap manusia dilengkapi dengan kemampuan untuk berfikir, namun, tidak semua orang dapat menggunakan kekuatan berpikirnya dengan baik. Inilah yang menjadikan mengapa ada orang yang sukses dan ada orang yang gagal. Dalam pelajaran logika ( ilm al-manthiq ), manusia didefinisikan sebagai hayawanun nathiq(makhluk berpikir, bernalar, berbahasa). Secara umum, definisi ini tidak salah, tepat dan relevan, meskipun tidak sepenuhnya benar. Manusia memang diberi kelebihan oleh Allah SWT dengan dibekali akal, kompetensi berpikir. Akan tetapi, bukan hanya kemampuan berpikir (berakal) semata, melainkan ada juga potensi lain yang memungkinkannya tumbuh kembang menjadi mukallaf , manusia bertanggung jawab dan siap menerima taklif (tugas dan tanggung jawab) sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya.













