JAKARTA || bedanews.com — Untuk menciptakan harmonisasi kebijakan teknis Sanitary and Phytosanitary (SPS), dilakukan pertemuan kelompok kerja para ahli lingkup ASEAN ke-24 yang digelar pada Kamis kemarin, 21 Juli 2022, yang diketuai oleh delegasi Vietnam, Brunei Darussalam sebagai wakil ketua dan Sekretariat ASEAN sebagai sekretaris sidang. Hadir sebagai peserta dari delegasi Indonesia selain Abdul Rahman sebagai ketua, adalah Aulia Nusantara, Nurjanah, Ratih Rahayu dan Aprida Cristin sebagai anggota dari Pusat KTKHN Barantan.
Seperti pada pertemuan sebelumnya, forum negosiasi teknis mengenai pest risk atau AROPT menjadi agenda yang cukup ‘panas’. Berkaitan dengan Persyaratan teknis komoditas pertanian asal tumbuhan yang dapat diperdagangkan dilingkup ASEAN akan dibahas dan disepakati pada forum ini.
Sementara itu delegasi Indonesia telah memiliki pengalaman dalam melakukan AROPT, terus berperan aktif memberikan masukan, tanggapan atau mempertahankan posisi Indonesia dengan berdasarkan justifikasi teknis yang bersifat ilmiah.
Pada pembahasan kali ini, terkait AROPT buah longan yang diketuai oleh Thailand sebagai lead country yang menyusun draft nya. Delri kembali mengusulkan dan mempertahankan persyaratan bebas lalat buah jenis Bactrocera correcta atau sebagai pest-concern. Meskipun dua negara yakni Vietnam dan Myanmar tidak menyetujui dengan alasan lalat buah tersebut tidak menyerang buah longan.
Namun demikian, Delri tetap mempertahankan dengan memberikan berbagai referensi ilmiah sebagai justifikasi bahwa OPTK berbahaya di lingkup ASEAN, terlebih lalat buah ini masih merupakan penyakit yang belum ada di Indonesia, atau A1.
Pada pertemuan tersebut, Delri juga mengusulkan panduan AROPT di ASEAN, atau the ASEAN Guidelines for the Conduct of Pest Risk Analysis dapat ditinjau kembali untuk dapat menyesuaikan dengan kondisi perkarantiaan kembali.
Diperlukan untuk menggunakan referensi ilmiah lainnya, selain CABI Crop Protection Compendium, dalam melakukan kajian AROPT. Hal ini yang telah dilakukan Barantan selama ini dalam menyusun ratusan dokumen AROPT komoditas pertanian asal negara lain yang masuk ke Indonesia.
“Harapannya dengan pengalaman Indonesia dalam menyusun banyak AROPT dapat berkontribusi bagi negara lain di ASEAN, sehingga produk pertanian ASEAN makin memiliki daya saing di pasar global, “ tutup Rahman, saat siaran Pers, Jum’at 22 Juli 2022.***













