Bandung, BEDAnews
Empat pilar kebangsaan yang akhir-akhir muncul, berangkat dari keresahan betapa sekarang ini karakter building anak bangsa mulai luntur. Untuk merujuk dan mengangkat kembali empat pilar ini, ada harapan bahwa karakter itu terbentuk kembali untuk generasi saat ini dan selanjutnya.
Hal ini diungkapkan Ketua Badan Kehormatan DPRD Jabar dan Ketua Dewan Penasihat Forum Silaturahmi Alumni Timur Tengah, Ricky Kurniawan, LC kepada BEDAnews.com usai menjadi nara sumber pada kegiatan penguatan Ideologi kebangsaan Bakesbanglinmas, Senin (11/6) malam di Lembang Jawa Barat.
Ke-empat pilar kebangsaan ersebut ada Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhineka tunggal Ika. “Tetapi kalau saya cendrung malah Proklamasi juga jangan dilupakan karena, kalau tidak ada proklamasi tidak ada ini semuanya,” katanya.
Tetapi baginya, empat pilar itu juga sudah jadi konsensus bersama. “Konsensus atau kesepakatan untuk menjadi ideology bangsa, lima sila yang dibuat oleh para founding father dengan renungan pengalaman dan perjalanan panjang, tokoh Sukarno dan para founding father yang lain,” tegas politisi Partai Gerindra.
Mantan ketua komisi A DPRD Jabar ini juga menegaskan sikapnya bahwa baginya UU itu merupakan guidance, jangan lupa tujuan berbangsa dan bernegara ini diatur oleh UU jangan sampai kita melenceng dari Undang-undang.
Kalau kemudian Negara Kesatuan Republik Indonesia itu harga mati, jangan sampai ada kekhawatiran kalau nantinya akan seperti Negara-negara lain yang tidak punya ideology bersama seperti Yugoslavia yang terbagi lima, Sovyet yang pecah berkeping-keping. Bahkan sekarang banyak kalangan pengamat yang memprediksi indonesia akan jadi 4 negara.
Ini jadi tantangan buat kita, bahwa sesungguhnya dengan Pancasila ini banyak yang kagum dengan Pancasila. Bahkan Obama sendiri sangat kagum dengan Pancasila karena bagi Obama di Amerika pun masih banyak friksi di dalamnya, sehingga Obama sering menyebutkan terinspirasi dengan bhineka tungal ika.
“Sehingga sesungguhnya kita berbangga dengan Bhineka Tunggal Ika ini, kita berbangga dengan Pancasila, tetapi alangkah lebih baiknya kita juga kembali menghidupkan kebanggan itu dengan mengamalkannya dengan mempelajari dan mendalaminya,” ajaknya. (hermanto)












