Bandung, BEDAnews
Keberadaan mobil dinas operasional Koordinatorat Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta (Kopertais) II Jawa Barat – Banten dipertanyakan Civitas akademika. Menurut sumber dilapangan, hal itu sudah mulai dipertanyakan saat H. Nanat Pattah Natsir masih menjabat sebagai Rektor UIN Bandung.
Nanat yang nota bene sebagai Koordinator Kopertais sudah curiga dan mempertanyakan tentang keberadaan mobil dinas tersebut. “Ketika itu pak koordinator mau pinjam mobil untuk keperluan keluarga, tapi setelah ditanyakan ternyata mobil itu tidak ada,” ungkap sumber.
Pada waktu itu lanjut sumber, rektor sempat marah karena pas mau diperlukan (untuk pernikahan keluarganya, red) eh, mobilnya tidak ada, katanya seraya minta identitas tidak disebutkan.
Bukan saja Rektor lama yang mempertanyakan mobil tersebut, bahkan Rektor baru UIN Bandung H. Dedi Ismatulloh pun sempat mempertanyakan semua kendaraan oprasional kampus, termasuk mobil kopertais.
Disinyalir mobil dinas jenis kijang tersebut, sudah di jual oleh oknum kopertais dan uang dari hasil penjualannya tersebut dibelikan lagi mobil baru jenis Suzuki APV. Namun sampai kini keberadaan mobil Suzuki APV tersebut entah dimana rimbanya. ”Uang hasil jual kijang itu, kan dipake beli APV, ga tau apakah sudah lunas atau masih angsuran,” ujar sumber.
Ketika bukti pembelian dan surat-surat kendaraannya ditanyakan rector, ternyata pihak kopertais tidak bisa memperlihatkan. ”Beliau sempat tanya juga, berapa belinya, siapa yang membayarnya, dari mana dananya, termasuk bukti-bukti kwitansi pembeliannya“, tandasnya.
Sekertaris Kopertais II Jabar – Banten, Tamami, mengaku pihaknya tidak tahu secara pasti jumlah kendaraan opersonal di instansinya. Namun sepanjang ingatannya hanya ada 2 mobil kijang yang sering digunakan sebagai kendaraan operasional, itupun tinggal satu sementara yang lainnya keberadaanya tidak jelas.
Dalam kesempatan tersebut, Tamami pun setuju agar semua mobil kampus termasuk kopertais ditertibkan. Sebab menurutnya mobil itu untuk menunjang kinerja kedinasan, bukan untuk keperluan pribadi apalagi di pindah tangankan jadi milik pribadi.
“Memang saya sempat mendengar juga mobil kijang di kopertais diperjual belikan, tapi secara catatan administrasi tidak ada. Saya sangat setuju masalah ini diungkap sepanjang niat untuk memperbaiki dan menertibkan kendaran inventaris kantor, bukan niat menjatuhkan seseorang,“ ujar Tamami.
Sementara mantan pengurus kopertais Jabar-Banten, H. Khotib mengungkapkan bahwa kendaraan dinas kopertais kurang lebih ada Empat, semuanya jenis Kijang yang anggarannya bukan dari APBN, tapi dari pemasukan pengelolaan kopertais di tiap PTAIS. “Sepengatahuan saya kalau tidak salah, dulu ada 4 kendaraan, kalau yang sekarang saya tidak, karena sudah tidak lagi di kopertais,”, jelasnya. (Tim)











