Garut, BEDAnews
Eksistensi Gagak Lumayung harus ditingkatkan kembali, karena Gagak Lumayung adalah organisasi tertua yang dilahirkan pada tanggal 20 Mei 1955, lahir bersamaan dengan konferensi ASIA AFRIKA 1955 di Bandung, demikian diungkapkan ketua umum DPD Gagak Lumayung Jawa Barat yang juga anggota DPR-RI, Yusyus Kuswandana saat melantik pengurus DPD Gagak Lumayung kabupaten yang ada di wilayah Priangan, Jawa Barat.
Yus berharap Persatuan Penggemar Pencak Silat (P3S) Gagak Lumayung yang sudah dilantik dan beberapa kabupaten yang akan dilantik, agar lebih meningkatkan aktivitas budaya di Jawa Barat, termasuk pencak silat, juga budaya budaya yang ada kaitannya dengan etos semangat pemberdayaan sebagai warga Jawa Barat.
Gagak Lumayung harus tetap membangun sebuah falsafah yang sudah ada sejak dulu, bersama warga bersama umat, membangun falsafah silih asah, silih asih, silih asuh, silih wangian diberbagai bidang, khususnya warga Gagak Lumayung, umumnya warga Jawa Barat agar bisa berkontribusi penuh baik dikabupaten masing masing atau di Jawa Barat untuk membangun Republik Indonesia.
Untuk prestasi sendiri kedepannya P3S Gagak Lumayung disamping akan terus melestarikan seni budaya pencak silat, juga akan membangun pelatihan pelatihan dan diklat yang dapat memberi kontribusi bagi daerahnya masing masing dan melahirkan atlet atlet pencak silat untuk sektor pertarungan.
Yus menuturkan, P3S Gagak Lumayung akan menjadi mitra IPSI, PPSI dan organisasi pencak silat lainnya untuk membangun Jawa Barat, sebelum bulan Juli Gagak Lumayung akan mengadakan saresehan Se Jawa Barat, dimana konsolidasi ini harus bermanfaat bagi rakyat, dan kedepannya organisasi ini akan tetap terpelihara agar di berbagai jaman, serta di berbagai generasi P3S Gagak Lumayung harus tetap eksis.
“Saya 30 tahun menjadi anggota Gagak Lumayung, sejak SMA, sampai sekarang saya menjadi anggota DPR RI, saya selalu membangun semangat kependekaran, semangat kesatriaan, sportivitas berdemokrasi, sprotivitas berpolitik agar kita tidak kalah dengan bangsa jepang yang punya mental Fushido,” tambah Yus, seraya berharap konsolidasi Gagak Lumayung ini agar jangan menjadi persaingan antar Paguron, karena Gagak Lumayung adalah kakak atau saudara tua, dulur dari berbagai paguron yang ada di Jawa Barat.
Harapan Yus kedepan, pemerintah di setiap kabupaten atau provinsi, ada optimalisasi perhatian terhadap pengembangan organisasi yang punya latar belakang budaya, sejarah bagi orang orang Jawa Barat, baik itu perhatian dari sisi moril maupun materil, selain itu pencak silat juga agar dijadikan kurikulum di sekolah sekolah yang ada di Jawa Barat.
“Saya berharap agar para pesilat yang sudah menjadi pengusaha, tokoh, birokrat agar memberikan kontribusinya didalam memelihara kekayaan atau kearifan lokal ini, karena bagaimananpun saya sebagai orang Jawa Barat yang paham betul dengan Nasionalis, berbuat di kabupaten berarti berbuat di Jawa Barat juga berbuat di Negara Indonesia,” ungkap Yus.
Perhatian pemerintah harus lebih ditingkatkan dan dimaksimlakan, apalagi sekarang era otonomi daerah, diberi keleluasaan untuk lebih meningkatkan kesejahteraan rakyat didaerahnya masing masing, termasuk kontennya di pembangunan budaya di kearifan lokal, baik seni, bela diri, produksi, industri, pemberdayaan masyarakat, dll. (Yuyus)











