CIMAHI, BEDAnews
Selama tahun 2012 sebanyak 53 kasus balita mengalami gizi buruk di Kota Cimahi. Hal tersebut meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya yakni 46 kasus "Kami tentunya berharap dapat mengoptimalkan peran petugas posyandu untuk menekan kasus gizi buruk yang masih ditemui di Cimahi. Sebab, para kader yang berada dekat dengan masyarakat memiliki peran penting yang strategis dalam menekan angka kasus gizi buruk," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Cimahi Pratiwi.
Penderita gizi buruk juga ditekan melalui program yang digagas berupa sosialisasi bagi masyarakat dalam meningkatkan kesadaran gizi terhadap tumbuh kembang buah hatinya.
Selain itu, kata dia, pihaknya pun akan meningkatkan pantauan di seluruh Puskesmas agar kegiatan tersebut dapat berjalan optimal. "Meski penderita gizi buruk ini mengalami peningkatan sekitar 15%, namun seluruh penderita telah kami akomodir serta dalam proses pengobatan," ujarnya.
Menurut dia, angka gizi buruk pada balita di Cimahi masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan jumlah keseluruhan bayi yang kini mencapai 43.000 jiwa. Jumlah temuan kasus di Cimahi, kata dia, masih di bawah standar nasional. "Sebagian masyarakat berpandangan bahwa gizi buruk disebabkan oleh faktor ekonomi, padahal mayoritas kasus tersebut disebabkan karena rendahnya tingkat kesadaran sang ibu pada saat mengandung," ungkapnya.
Kondisi bayi ketika dalam kandungan hingga melahirkan sangat dipengaruhi kesehatan ibu. Maka dari itu, pihaknya menghimbau agar ibu hamil dapat secara rutin ke posyandu dan puskesmas sehingga pertumbuhan bayi dapat terpantau.
"Selain itu, penyebab lain gizi buruk dapat terjadi disebabkan karena faktor keturunan, terutama jika orang tuanya memiliki riwayat penyakit TBC, maka anaknya dapat tertular," paparnya. (Bubun M)











