Garut, BEDAnews
Aparat serta warga Desa/Kecamatan Tarogong Kidul, mengeluhkan terjadinya penumpukan sampah di tempat pembuangan sementara (TPS) selama dua pecan ini karena tak diangkut petugas. Mereka juga mengeluhkan pencemaran yang dikhawatirkan akan berakibat buruk terhadap kesehatan warga sekitar.
Tumpukan sampah menggunung itu, terjadi di TPS Jalan Adung, Kampung Kalidung tepatnya di depan Kantor Desa Tarogong. Bukan hanya menimbulkan pemandangan tak sedap, juga menimbulkan bau menyengat. Malahan jika hujan turun, air tumpukan sampah pun mengalir ke pemukiman warga lengkap dengan material sampahnya.
Tokoh warga yang juga Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa Tarogong, Endang Solih mengaku sangat menyayangkan terjadinya tumpukan sampah di tempat itu karena telah sangat mengganggu kenyamanan warga. Bukan hanya pemandangan tak mengenakan, tapi juga pencemaran, baik pencemaran udara, air dan lingkungan, yang ironisnya lagi, tumpukan sampah hanya beberapa meter dari Kantor Desa, keluh Endang Solih kepada Bedanews.com, Sabtu (9/3).
Kepala UPTD Pasar Guntur H. Dayat S.Sos saat dijumpai Bedanews.com, menjelaskan, sebenarnya para petugas UPTD pasar Guntur maupun petugas DLHKP telah membersihkan tumpukan sampah di TPS dan selalu mengangkutnya, namun tumpukan sampah memang makin bertambah. Hal tersebut akibat kerusakan dan kecilnya TPS diwilayah Pasar Guntur.
Setiap hari, dilokasi pasar Guntur terancam gunungan sampah. Dalam sepekan terakhir, pengangkutan sampah dari TPS ke TPA meskipun sering dilakukan, namun tetap tumpukan sampah selalu ada. Hal itu disebabkan jebolnya TPS dilokasi pasar Guntur, akibatnya bau membusuk semakin menghangat kesetiap lokasi dekat pasar.
Dayat menyangkal bau sampah akibat tidak terangkut, karena menurutnya setiap hari sampah selalu diangkut oleh petugas DLHKP kabupaten Garut. “Jadi di lokasi pencurahan atau tempat sampah ditumpahkan kondisinya menggunung dan penuh. Makanya enggak mungkin lagi menerima sampah. Kalau normalnya kan dari tempat pencurahan itu didorong oleh TPS yang tinggi dan besar baru sampah tersebut baru sampah tersebut akan tertampung,” jelasnya.
Kondisi tersebut, kata Dayat, sudah lama terjadi. Pada awalnya sampah yang hanya bisa terangkut sekitar 80 persen, lalu 70 persen, kemudian 50 persen. "Dan lama kelamaan akibat kecilnya daya tampung di TPS ini bisa jebol. Hari ini juga sama," katanya Sabtu (9/3).
Dalam dua hari ini, Dayat mengaku setiap haripun para petugas selalu melakukan pengangkutan, tetapi tetap sampah selalu menumpuk karena TPS tidak sebanding dengan sampah yang datangnya setiap hari. “Makanya kami minta warga juga untuk mengurangi produksi sampah rumahannya,” ujarnya.
Dijelaskanya, mengenai sampah dipasar Guntur kabupaten Garut, setiap haripun diangkat kalau dulu oleh petugas dari pertacip. Namun, sekarang diangkut oleh pihak DLHKP. Dan dalam jangka satu haripun sampah diangkut sebanyak 3 sampai 4 truk, serta tidak ada istilah sampah menggunung ditempat TPS Guntur. Yang jadi kendala adalah kondisi TPS sudah rusak dan sampah selalu jadi lumpur. Sehingga bila diangkut sampah itu tergenangi air dan airnya bau.
“Seharusnya TPS ini dilakukan perbaikan ya paling tepatnya dibangun lebih tinggi agar kondisi TPS tersebut tidak sejajar dengan jalan, dimana waktu diangkut sampah dari TPS tersebut airnya mengalir kearah draniase juga drainasenyapun saat ini sudah pecah dan bau kesemua lokasi,” katanya. (Sighar)











