BANDUNG, BEDAnews
Institusi sekolah dinilai belum bisa diharapkan untuk mendidik anak ke arah pemikiran yang lebih kreatif, karena berbagai alasan. “Kenapa proses belajar kreatif itu jadi kurang berjalan disekolah, salah satunya karena tidak sesuai dengan kurikulum yang ditentukan. Selain itu juga menyita waktu, tenaga dan biaya lebih besar. Padahal kemajuan peradaban manusia dengan ditemukannya lampu listrik, mobil dan lain – lain, bermula dari seseorang yang senantiasa mengasah keterampilan otaknya untuk berpikir kreatif,“ kata Tsuraya Widuri, salah seorang penulis dan pendidik di kota Bandung, kepada BEDAnews, Sabtu (26/1).
Dia mencontohkan, proses belajar mengajar di dalam kelas, banyak guru yang memberikan pertanyaan dan murid harus menjawab dengan jawaban yang tepat. Yaitu jawaban yang harus plek sama dengan buku panduan. Jika muncul jawaban – jawaban alternatif yang melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda, maka jawaban seperti itu dinyatakan salah. Dengan kata lain maka daya hapal atau kemampuan mengingatlah yang lebih ditekankan di sekolah.
Menurutnya, kita tak bisa berharap banyak pada pihak sekolah yang mempunyai keterbatasan. Di sinilah peran aktif orang tua sangat dibutuhkan. Orang tua harus jadi pendidik, perangsang dan pemberi motivasi agar anak terbiasa untuk berpikir kreatif. Sebab berpikir kreatif itu penting. Karena bisa menjadi bekal sangat berharga bagi anak di kemudian hari.
Ada banyak cara untuk melatih anak berpikir kreatif. Salah satunya dengan mengajukan pertanyaan–pertanyaan. Tetapi tidak sembarang pertanyaan bisa diajukan. Sebab ada pertanyaan yang harus dihindarkan dan ada pertanyaan yang dianjurkan.
Berikut adalah jenis pertanyaan yang harus dihindarkan, seperti pertanyaan yang membingungkan, pertanyaan yang bersifat menyuapi, pertanyaan yang samar atau pertanyaan yang sempit.
Dijelaskan Tsuraya, dengan cara sederhana, orang tua bisa berperan dalam menumbuhkan kemampuan anak berpikir kreatif. Jika hal itu dibiasakan, di masa depan anak akan mampu melihat kesempatan – kesempatan positif yang menguntungkan. “Jadi, walaupun persaingan hidup semakin ketat, anak akan tetap eksis dan tegar menghadapi tantangan,“ sebutnya. (Bubun M)











