CIMAHI, BEDAnews
Bantuan kendaraan yang di rekomendasi Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan dan Pemakaman, hingga sekarang tidak bisa difungsikan secara elektrik, akibatnya efektifitas pengangkutan sampah menjadi kendala.
“Kami sudah komplain tentang hal tersebut, namun hingga saat ini kami sering kesulitan karena spek tersebut tidak pas, terpaksa tidak ada cara lain selain bongkar muat sampah dengan cara manual,” terang Kepala Bidang Kebersihan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Cimahi, H. Ade Rukhiyat, Rabu (16/1).
Akibat kondisi itu, pengangkutan sampah di Kota Cimahi masih dilakasanakan secara manual, sehingga menambah waktu kerja petugas. Ini berakibat pada antrian kendaraan pengangkut sampah di lokasi Stasiun Peralihan Antara (SPA) Sangkuriang.
Karena sering terkendala masalah teknis, mekanisme pengangkutan sampah yang mestinya dengan peralatan yang sudah modern dapat teratasi, efektifitas pengangkutan sampah masih manjadi kendala.
Peningkatan efektivitas pengangkutan sampah di Kota Cimahi, melalui sarana SPA sampah yang dibangun pada 2011 dimaksudkan untuk efiensi pengangkutan sampah yang terkumpul dan bisa dipres, sehingga pengangkutan sampah dari SPA ke TPA sarimukti lebih efesien.
Mesin pres sampah atau Kompektor masih tergolong baru, maka proses pengenalan dan adaptasi alat dengan operatror memerlukan waktu. “Jika ada Trouble kami harus mengotak atik sendiri, karena dealernya di Jakarta dan kadang sulit berkomunikasi. Hal tersebut dapat menghambat efesiensi waktu dalam pengangkutan sampah,” ujarnya.
Selain itu, bantuan armada sampah dari Kementerian pun terdapat ketidakcocokan ukuran dimensi pintu belakang Dum Truk dengan dimensi Alat Kompeksi yang ada di SPA, hal tersebut juaga mengundang kendala.
Tidak sesuainya dimensi tinggi Dum Truk yang selisih 15 cm dengan dimensi kompeksi tersebut, mengakibatkan alat tidak bisa bekerja dengan baik, hal tersebut tidak bisa dilakukan karena armada pengangkut sampah tidak bisa masuk ke kompeksi pengangkutan sampah yang sedianya hidrolik terpaksa dengan cara manual.
Apalagi ketika armada angkutan yang ada rata-rata lansiran tahun 2002 sebanyak 22 unit. Setelah malam tahun baru, terpaksa tumpukan sampah menghiasi SPA. Kebutuhan armada sampah memang masih kurang.
“Secara kebutuhan aramada sebanyak 22 unit, sebenarnya masih kurang, kendala penanganan sampah itu bukan kinerja petugas yang lambat, tapi Dinas memandang lebih kepada efektifitas efesiensi kerja, karenanya jika memungkinkan harus ada penambahan armada,” ucap Ade. (Bubun)











