Bandung, BEDAnews
Kota Bandung menjadi Pusat Mata Indonesia, setelah Rumah Sakit Mata Cicendo yang terletak di jalan Cicendo Bandung, menjadi satu-satunya Rumah Sakit mata milik Pemerintah Indonesia dan menjadi pusat rujukan Rumah Sakit mata seluruh Indonesia.
Hal ini diungkapkan Direktur Utama RS Mata Cicendo Dr. Hikmat Wangsaatmadja, Sp.M., M.Kes., MM. saat bersilaturahmi dengan wartawan bertempat di lt IV gedung Baru RSM Cicendo Bandung, Kamis (10/1) dalam kaitan memperingati hari ulang tahun RS Mata Cicendo ke-104 dan rencana peresmian gedung poliklinik baru oleh Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi, pada hari Sabtu 12 Januari 2012.
Dikatakan Dr. Hikmat, berdasarkan hasil survey World Health Organisation (WHO) tahun 1996, sebesar 1,5 persen masyarakat Indonesia mengalami kebutaan. Dan ini menjadi angka kebutaan yang hampir mencapai tertinggi di dunia, tingginya angka kebutaan di Indonesia ini tidak terlepas dari kurangnya kesadaran masyarakat dan political will pemerintah.
Untuk menurunkan angka kebutaan tersebut, Rumah Sakit Mata Cicendo (RSMC) sebagai satu-satunya RS Mata Nasional yang berdiri 3 Januari 1909, terus berupaya memberikan pelayanan, pendidikan dan penelitian di bidang kesehatan mata bagi masyarakat, ungkap Dr. Hikmat, didampingi Direktur Umum Dr. Suryo Purhananto M.Kes.
Sedangkan di Jabar sendiri, provinsi dimana RS mata ini berada, angka kebutaan mencapai 1,1 persen dari jumlah penduduk atau sekitar 473 ribuan dengan angka dipastikan jumlahnya terbesar, karena jumlah penduduk di Jabar terbesar di Indonesia.
Berdasarkan data yang ada, jumlah kebutaan di Jabar mencapai 1,1 persen dari total penduduk di daerah ini, jumlah penduduk Jabar saat ini kan sekitar 43 jutaan, dengan angka 1,1 persen penduduk mengalami kebutaan, termasuk tinggi atau di atas garis wajar yakni satu persen, meskipun secara umum Jabar masih dibawah angka kebutaan nasional yang mencapai 1,5 persen.
“Dari keseluruhan kasus kebutaan yang terjadi di provinsi itu, sekitar 60-70 persen adalah akibat penyakit katarak. Penyakit katarak itu potensial terjadi pada semua orang di atas usia 40 tahun,” ungkapnya. (hermanto)











