Gereja Oikumene Diponegoro dibangun dalam waktu 14 minggu dengan biaya sebesar Rp1,9 miliar melalui kolaborasi antara Kodam IV/Diponegoro, masyarakat, serta mitra dan donatur lokal. Gereja ini dirancang dengan konsep yang menggabungkan unsur seni dan sejarah, menciptakan suasana tempat ibadah yang hangat dan inklusif.
Aspers Kasdam IV/Diponegoro, Kolonel Arm Ezra Nathanael, S.Kom., M.M, M.Han, selaku Ketua Panitia, menambahkan bahwa, gereja ini bukan hanya diperuntukkan bagi prajurit TNI dan PNS di lingkungan Kodam IV, tetapi juga terbuka bagi masyarakat umum, khususnya umat Kristiani di wilayah Semarang dan Jawa Tengah. Ia menekankan bahwa nama “Oikumene” memiliki arti persatuan, yang mencerminkan semangat inklusif gereja ini.
“Gereja ini merupakan tempat ibadah yang menyatukan berbagai denominasi Kristen, baik Protestan, Presbyterian, Katolik, maupun denominasi lainnya. Gereja ini adalah rumah doa, tempat silaturahmi, dan simbol persatuan dalam keberagaman,” ungkapnya.











