“Apa bedanya sebelum ada internet, kalau bekerja seperti itu. Bekerja di media siber, tetapi perilakunya masih seperti bekerja di media cetak. Wartawan perlu menyesuaikan,” kata Nasir yang kini aktif di Kelompok Kerja Komisi Pendidikan, Pelatihan, dan Pengembangan Profesi Pers di Dewan Pers.
Dalam memanfaatkan kecepatan internet, Nasir yang berpengalaman menjadi wartawan Kompas (1989-2018, memberi contoh persaingan wartawan media online di Jakarta dalam mengejar kecepatan di antara mereka.
Kalau ada liputan bersama, mereka sudah menyiapkan rencana liputannya. Ketika sudah selesai meliput, mereka beradu cepat kirim berita dengan sesama wartawan.
“Ada di antara mereka yang menahan untuk tidak mengirim berita dulu. Tetapi ada yang masuk ruang toilet dengan alasan mau cuci tangan, padahal di dalam ruang toilet merapikan ketikannya dan mengirim berita. Mengaku tidak kirim berita, tapi beritanya sudah dikutip google,” kata Nasir.













