“AI kemudian tidak hanya hadir di manufaktur tapi juga masuk ke jurnalisme, ranah yang selama ini identik dengan kemampuan berpikir kritis, logika, dan kepiawaian menulis,” kata Amy.
Lantas, apakah robot akan mengambil alih jurnalisme?. “Tidak akan pernah,” tegas Charlie Beckett, Direktur media think tank Polis di London School of Economics, yang baru-baru ini memimpin penelitian terhadap 71 organisasi berita di 32 negara,kutip Amy Atmanto.
Lebih lanjut Amy memaparkan, laporan penelitian tim Beckett menunjukkan bahwa ruang redaksi umumnya menggunakan AI dalam tiga bidang yaitu pengumpulan berita, produksi, dan distribusi.
Beckett melihat potensi kecerdasan buatan, pembelajaran mesin, dan pemrosesan data dapat dimanfaatkan jurnalis sebagai kekuatan baru. Namun demikian, “kekuatan baru” tersebut membuahkan tanggung jawab baru bagi jurnalis untuk memastikan kebenaran data tersebut.













