“Merasa sangat sedih, ia pun mengasingkan diri dan berkelana. Dia pun dikenal dengan julukan si buta dari gua hantu. Bersama temannya seekor monyet yang setia menemani, ia berjuang membasmi kebatilan dan kejahatan untuk membantu orang-orang yang tertindas,” lanjut Ade.
Dikemas dengan apik dan menarik lewat gerakan serta kostum yang dipakai, tim atlet pencak silat ini pun mendapat penilaian tertinggi dari para juri.
“Kelompok lain juga membawa cerita legenda di masing-masing daerahnya. Beberpa yang dinilai itu pakaian, kostum, musik, dan penampilannya,” ungkapnya.
Salah satu peserta atlet yang berperan sebagai si Mata Malaikat, Adriansyah Austin Horianto menuturkan, sejak duduk di bangku kelas 3 SD, sudah tertarik mendalami pencak silat. Hingga kini, ia berada di kelas 3 SMP.













