Lantas, mengapa isu ini begitu awet? Jawabannya melampaui urusan meja hijau. Secara ekonomi, rumor dan kontroversi politik adalah komoditas dengan imbal hasil tinggi (high yield). Susan Rose-Ackerman dalam Corruption and Government: Causes, Consequences, and Reform (Cambridge: Cambridge University Press, 1999, hlm. 88) menegaskan bahwa ketidakpastian informasi dalam birokrasi sengaja dipelihara karena ia menciptakan ruang bagi transaksi pengaruh dan akumulasi modal politik. Isu ijazah menjadi bahan bakar murah untuk merawat polarisasi yang menguntungkan para pengulak perhatian.
Secara sosial dan budaya, fenomena ini adalah kulminasi dari krisis kepercayaan (distrust). Dalam kacamata Max Weber dalam Wirtschaft und Gesellschaft (Tübingen: J.C.B. Mohr, 1922, hlm. 215), keabsahan kekuasaan rasional-legal bersandar pada prosedur formal. Ketika publik terus meragukan lembaran legalitas pimpinannya, terjadi pergeseran dari masyarakat rasional menuju klan emosional. Sartono Kartodirdjo dalam Pemberontakan Petani Banten 1888 (Jakarta: Pustaka Jaya, 1984, hlm. 62) pernah mencatat bagaimana narasi-narasi mesianik atau keraguan atas legitimasi penguasa dengan cepat membakar imajinasi kolektif masyarakat yang merasa terasing dari pusat kekuasaan.













