“Kami lakukan survei di 30 kecamatan yang ada di Bandung dengan paling banyak wilayah Babakan Ciparay dan Cinambo yang terkecil. Responden laki-lakinya itu sekitar 50,4 persen sedangkan perempuannya 49,6 persen,” katanya.
Fahmy pun mengungkapkan dalam survei ini pihaknya berfokus pada politik identitas yang pembahasannya terkait sosok pemimpin baik segi agama, etnis, maupun suku.
Namun, menjadi permasalahan ialah perbincangan politik terkait pemilu 2024 masih sangat kurang perhatiannya dari masyarakat Bandung berbagai usia yang disebabkan belum adanya peristiwa politik yang dapat menjadikannya pembahasan baik saat berkumpul atau melalui media sosial.
“Dari survei yang kami lakukan pemilu 2024 ternyata politik identitas ini bukanlah menjadi tren. Dan perbincangan politik masih minim lantaran belum ada peristiwa politik yang bisa dongkrak isu-isu untuk diperbincangkan. Perbincangan politik akan tinggi ketika ada aktor dan peristiwa politik,” ujarnya.












