“Yang benar-benar terjadi sebenarnya lebih sedikit daripada yang disimpulkan para karakter. Mereka mendengar suara, lalu mengisi bagian yang hilang dengan ketakutan sendiri. Penonton sengaja ditempatkan dalam posisi yang sama,” jelasnya.
Inilah alasan HASUT menggunakan sudut pandang yang berubah-ubah. Setiap karakter membawa luka, ingatan, dan versinya sendiri. Penonton tidak langsung diberikan satu sudut pandang yang sepenuhnya dapat dipercaya.
Ilya menegaskan bahwa kebingungan tersebut bukan dimaksudkan untuk menguji apakah penonton cukup pintar memahami film. HASUT justru mengajak penonton memisahkan tiga hal: apa yang benar-benar terlihat, apa yang diasumsikan karakter, dan apa yang akhirnya mereka percaya.
“Buatku pertanyaan film ini bukan hanya siapa yang berada di balik suara itu. Pertanyaannya adalah mengapa kita begitu cepat mempercayai suara yang paling sesuai dengan luka dan ketakutan kita,” tambah Ilya.













