Ia menambahkan, pemenuhan gizi anak tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. “Kesadaran akan pentingnya gizi harus tumbuh dari keluarga. Setiap rumah tangga memiliki peran penting dalam menciptakan bangsa yang kuat,” tambahnya.
Sementara itu, perwakilan BGN, Sahruroji, menyoroti pentingnya edukasi gizi melalui konsep Isi Piringku sebagai panduan praktis masyarakat dalam menyusun menu seimbang.
“Setengah piring berisi buah dan sayur, setengahnya lagi karbohidrat dan protein. Pemahaman sederhana ini bisa membantu masyarakat memperbaiki pola makan harian,” jelasnya.
Ia juga menekankan peran protein hewani dan nabati dalam pembentukan sel dan perkembangan otak anak. “Gizi seimbang bukan hanya soal kenyang, tetapi soal kualitas makanan yang dikonsumsi,” tegasnya.











