Ia juga menyoroti potensi ekonomi dari program ini karena membuka peluang kerja baru bagi pelaku UMKM, petani lokal, dan sektor kuliner di daerah.
Dari sisi akademisi, Yulianto Dwi Saputro dari Universitas Insan Budi Utomo mengingatkan bahwa pemenuhan gizi bukan hanya isu kesehatan, tapi juga investasi jangka panjang untuk kualitas sumber daya manusia Indonesia.
“Anak-anak yang kekurangan gizi berisiko mengalami gangguan tumbuh kembang dan penurunan kemampuan belajar. MBG hadir untuk memastikan generasi muda kita tumbuh sehat, cerdas, dan produktif,” tuturnya.
Menurutnya, program MBG juga mendorong peningkatan partisipasi sekolah, edukasi pola makan sehat, serta keterlibatan ekonomi lokal melalui kemitraan dengan UMKM.
Kegiatan sosialisasi di Malang ini menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen bersama dalam menurunkan angka kekurangan gizi dan memperkuat ketahanan pangan nasional.













