Dengan kelembutan, Ibrahim berkata, “… aku akan memohon kepada Allah, agar Dia mau memberikan hidayah kepadamu serta mau mengampuni dosa-dosamu. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.” (QS. Maryam [19]: 47).
Kesepuluh, sangat senang menerima tamu. Orang yang pertama kali melakukan perbuatan yang mulia ini ialah Nabi Ibrahim. Syaikh as-Sa’di menjelaskan, “Sesungguhnya memberi jamuan kepada tamu (dhiyâfah) termasuk sunnah (tradisi) Nabi Ibrahim yang Allah memerintahkan kepada Muhammad dan ummatnya untuk mengikuti ajarannya”.
Dalam kitab “Nashoihul Ibad” dijelaskan, Nabi Ibrahim tidak pernah makan (siang atau malam) kecuali ada tamu yang menemaninya. Ia rela berjalan hingga dua mil untuk mencari tamu agar dapat makan bersamanya. Dari sifat mulia itulah Allah memberi gelar sebagai Khalilullah (kekasih Allah).













