Menurut Yeni, pengalaman yang dialaminya juga dirasakan masyarakat lainnya. Sejumlah ibu di sekitar rumahnya, juga kesulitan mendapatkan minyak goreng. Bahkan, toko kelontong yang biasa menjadi langganannya kehabisan stok.
Meskipun demikian, Yeni dan keluarga masih menyimpan stok minyak goreng sebanyak satu liter. Stok ini setidaknya bisa memenuhi kebutuhan makan keluarganya untuk 3 hari.
“Karena anggota keluarga saya sedikit, dan kalau masak goreng juga jarang dan tidak banyak-banyak,” tuturnya.
Lain pula yang dialami penjual gorengan bernama Dadang, sulitnya stok minyak goreng memaksanya harus antri sejak pagi sebelum toko minimarket dibuka. Padahal sebelumnya hal itu tak pernah dilakukannya ketika minyak goreng berharga normal.
“Antrenya harus pagi-pagi, sebelum minimarketnya buka. Kalau kemarin pas mahal-mahalnya ya dibeli tapi ukurannya (gorengannya) dikecilin biar nggak rugi,” beber Dadang, penjual gorengan di Taman pasar Martapura OKU Timur













