“Pergaulan internasional itu secara nyata menguatkan posisi Arsitek Indonesia di mata dunia, menumbuhkan rasa percaya dirinya untuk senantiasa menjaga dan mengembangkan kompetensinya, patuh pada peraturan tata kota, bangunan gedung dan kecagarbudayaan, serta menegakan kode etik dan kaidah tata laku Arsitek.” Katanya.
Pembangunan Indonesia adalah pembangunan jiwa dan raga. Para Arsitek Indonesia dituntut berpraktik dengan menggunakan keahlian dan pengalamannya yang terbaik untuk melayani kebutuhan pengguna dalam dimensi ekonomi dan sosial-budayanya. Karya arsitektur merupakan jawaban atas tantangan jaman yang mengarah pada kehidupan berbasis human oriented development dan net zero emission. Kita tak boleh membiarkan persoalan arsitektur diselesaikan oleh tangan-tangan yang tidak pantas menyebut dirinya “Arsitek.” Kita pun ingin menjadi tuan rumah yang tangguh di tengah persaingan global.













