Ketiga, collaboration, “Kalau mau melipatgandakan hasil teamwork dan network itu harus kolaborasi, tidak bisa kerja sendiri-sendiri. Memperbesar manfaat itu dengan kolaborasi, kalau kita tidak bisa kolaborasi jangan pernah berharap manfaat yang lebih besar,” jelasnya.
Keempat, innovation adalah bagaimana kita mengimajinasikan masa depan kemudian kita mengisi ruang-ruang kosong di antaranya. “Jadi kalau kita tidak bisa mengimajinasikan UIN Sunan Gunung Djati setelah kepemimpinan pak Mahmud ini seperti apa maka jangan pernah ada inovasi di kampus ini,” tandasnya.
Tentunya tidak ada kesempurnaan, kekurangan-kekurangan yang ada pasti masih dalam batas-batas yang ditolerir. “Pak Mahmud dengan keistimewaannya pasti ada kekurangan dan nanti saya minta yang melanjutkan. Tidak usah kekurangan-kekurangan ini dimuncul-munculkan untuk menunjukkan bahwa saya terbaik. Cara menunjukkan prestasi kita itu dengan kita memacu diri sendiri tidak dengan cara merendahkan. Tapi sejauh ini saya melihat pak Mahmud sudah bekerja dengan keras dengan baik karena itu saya mengucapkan terima kasih. Mudah-mudahan UIN Sunan Gunung Djati ini mampu benar-benar menjadi center of excellence di seluruh perguruan tinggi negeri,” harapannya.*** Dihard












