Oleh : Prof.Dr.Hj.Lilis Sulastri., MM.,CPHRM.,CHRA.
Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah Kota Bandung Sekretaris Departemen Penguatan SDM Lembaga Keuangan Syariah MPP ICMI.

Setiap Ramadhan tiba, lanskap ekonomi Indonesia mengalami perubahan yang sangat terasa. Menjelang waktu berbuka, sudut-sudut kota dan desa mendadak hidup. Trotoar, halaman masjid, pelataran rumah, hingga gang kecil berubah menjadi pusat transaksi yang dinamis. Di balik meja sederhana dan etalase seadanya, berdirilah para Perempuan ibu rumah tangga, janda, mahasiswa, hingga pensiunan yang menjajakan kolak, gorengan, es buah, lontong, dan aneka panganan berbuka. Fenomena perempuan turun ke ruang publik pada bulan suci bukan sekadar gejala musiman. Yang tampak di permukaan hanyalah aktivitas jual beli. Di baliknya, berlangsung proses ekonomi yang lebih dalam, yakni adaptasi, kreativitas, dan afirmasi kemandirian keluarga. Ramadhan membuka ruang bagi perempuan untuk tampil sebagai aktor ekonomi strategis, bukan pelengkap. Momentum ini perlu dibaca bukan sebagai romantika pasar takjil, tetapi sebagai potensi kebijakan dan strategi pemberdayaan ekonomi perempuan.











