Kedua keteladanan sosial. Di Perguruan Tinggi sering disebut dengan berdampak, jadi tidak boleh orang yang berilmu, profesor hanya asyik dengan dirinya. Dia harus menjadi agent of change, menjadi agent of civilization, harus menjadi agen peradaban.
Ketiga keteladanan moral, harus menjadi agen moral spiritual. Inilah arti penting seorang guru besar, digugu dan ditiru.
“Guru besar itu diatasnya guru yang tidak besar, walaupun guru besar tidak selalu gajinya besar,” seloroh Mu’ti.
Terkait dengan keteladanan itu, Mu’ti berharap semua bisa memperkuat paling tidak dua kebenaran yang harus diperjuangkan bersama-sama.
Pertama kebenaran agama, kebenaran diniyah. Mu’ti memandang penting karena tantangannya tidak semakin ringan tapi semakin berat. Kebenaran agama yang membawa kepada keyakinan bahwa di tengah carut marut, agama menuntun kita dengan wahyu Illahi yang membuat kita yakin senantiasa berada pada jalan yang benar.












