Program-program tersebut membantu meningkatkan daya beli masyarakat miskin, menjaga stabilitas ekonomi di tingkat rumah tangga, dan melindungi mereka dari dampak negatif perubahan ekonomi global.
Meskipun dunia dihadapkan pada inflasi yang tinggi, kenaikan suku bunga global, dan ketidakpastian pasar akibat proteksionisme, Indonesia mampu menjaga pertumbuhan ekonominya.
Sri Mulyani mencatat bahwa lonjakan suku bunga sebesar 500 basis poin di Amerika Serikat dan penguatan Dolar AS tidak mampu menggoyahkan ekonomi Indonesia yang tetap tumbuh di atas 5 persen. Pada saat yang sama, pertumbuhan ekonomi global hanya berada di kisaran 3 persen, menunjukkan kekuatan ekonomi Indonesia dalam menghadapi krisis global.
Kebijakan fiskal dan moneter yang diambil oleh pemerintah Indonesia terbukti efektif dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Di bawah kepemimpinan Jokowi, pemerintah menerapkan pendekatan yang fleksibel dan responsif terhadap perubahan ekonomi global, yang memungkinkan Indonesia untuk tetap bertahan dan bahkan tumbuh di tengah tekanan ekonomi dunia.













