1. Mengusung PS-Anies, hanya 30% kemungkinan PS bersedia, 80% kemungkinan Anies bersedia.
2. Mengusung Anies-PS, 100% PS tidak bersedia, lebih baik menjadi Cawapres untuk GP.
Dengan demikian bahwa, DGP yang sejak awal mempredksi bahwa Pemilu 2024 akan menjadi dua poros, akan terwujud, dengan dua skenario:
1. Koalisi Besar vs Koalisi Perubahan.
2. Koalisi Besar terbagi dua, yaitu pengusung GP-siapapun Cawapresnya vs pengusung Capres lainnya atas kesepakatan koalisi besar. Dalam hal ini Nasdem akan bergabung dengan pengusung GP, maka PKS dengan Demokrat akan kelabakan dan Anies terbuang.
Dalam hitungan bulan koalisi besar akan menentukan sikap dalam memutuskan Cawapres pendamping GP, jika tidak ada lagi perubahan lainnya, maka prediksi DGP akan terwujud, kalau pun ada perubahan, pastilah karena kebutuhan kompromi politik untuk menjamin kemenangan, menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia serta keamanan, hal itu dapat kita cermati pada keputusan politik saat memasangkan Jokowi dengan MA pada pemilu 2019, dengan mengacu pada hal itu, maka bisa saja GP di pasangkan dengan KH Said Agil Sirodj pada Pemilu 2024.













