Kedua, KIM boleh dibilang identik dengan kekutan politik penguasa nasional (di dalamnya ada pengaruh Prabowo sebagai Ketua Umum Partai Gerindra dan sekaligus Presiden Terpilih).
Maka, tidak menutup kemungkinan segala fasilitas dan perangkat politik negara dari tingkat atas sampai ke bawah secara tidak langsung, suka atau tidak suka akan dimainkan untuk memenangkan Andrasoni-Dimyati.
Ketiga, Partai Golkar yang kembali mendukung Airin, terkesan dan cenderung kurang maksimal memainkan roda mesin politiknya di lapangan. Mungkin karena partai beringin ini masih merasa “ewuh pakewuh”.
Kedua kakinya berada di dua tempat yang berbeda. Kaki kanan ada di kubu Airin dan kaki sebelah kiri ada di KIM sehingga efektivitasnya masih diragukan dalam memenangkan pertarungan.












