Terlepas dari persamaan dan perbedaan tersebut, baik Ali Sadikin maupun Pramono Anung memiliki tujuan yang sama, yaitu menjadikan Jakarta sebagai kota yang semakin maju dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Namun, ukuran keberhasilan keduanya tentu tidak bisa disamakan karena masing-masing memimpin pada zaman, kondisi sosial, ekonomi, politik, dan tantangan pembangunan yang berbeda.
Ali Sadikin dikenang sebagai peletak fondasi Jakarta modern. Sementara itu, Pramono Anung sedang menghadapi tantangan membawa Jakarta memasuki era baru sebagai kota global yang kompetitif, inklusif, berkelanjutan, sekaligus tetap menjadi pusat pertumbuhan ekonomi nasional.
Karena itu, perbandingan yang paling adil bukanlah menentukan siapa yang lebih unggul, melainkan melihat sejauh mana masing-masing gubernur mampu menjawab kebutuhan Jakarta sesuai dengan tantangan zamannya.













