Bapak Sidik R. Usop menyampaikan, Rapat damai Tumbang Anoi 1894 merupakan tonggak sejarah peradaban masyarakat Dayak Kalimantan, Kebangkitan budaya adat, Luas wilayah Kalimantan, Kekayaan sumber daya alam, Suku Dayak yang etnik, Kalimantan sebagai pulau harapan. Maneser Pantau Tatu Hiang harapannya bagaimana mengolah sumber daya alam yang berlimpah utk kesejahteraan masyarakat, Tiang penyangga kehidupan masyarakat Dayak (Kaum cendikiawan, kaum adat, kaum Agamawan), Hidup beradat, agar tidak berbenturan dengan pihak lain, Pemanfaatan SDA yang memperhatikan keadaan lingkungan, Mensejahterakan masyarakat Dayak Kalimantan khususnya dan Indonesia secara umum, Simbol Batang Garing adalah simbol keseimbangan antara kehidupan sosial.
Syilvana Ariyani Hamarig Toemon Cucu Tjilik Riwut (Mewakili Keluarga Tjilik Riwut), Kami sampaikan Terimakasih Kepada Danrem 102/Pjg atas nama keluarga besar Tjilik Riwut atas gagasan kegiatan ini. Kami awali dari apa kata orang tentang beliau yaitu pribadi yang Wibawa, Bijaksana, Baik, Ramah mudah bergaul dgn siapa saja. Perlu menjaga tradisi yang menjadi teladan beliau, dengan prinsip dimana bumi dipijak disitu langit di junjung. Menjaga tradisi Rumah Betang yg selalu dibawa Beliau kemana saja Beliau berada, walaupun Beliau sendiri tidak pernah tinggal di Rumah Betang. Karya tulis Beliau bisa menjadi motivasi dan Inspirasi semua orang, termasuk oleh sejarawan Dr. Sidik R. Usop. Beliau memperkenalkan Budaya, kehidupan adat istiadat tentang Dayak melalui karya tulis.













