Kita tidak perlu terus-menerus membuktikan bahwa dahulu kita pernah menjadi seseorang. Biarlah pengabdian itu berbicara melalui hasil, sikap, dan keteladanan yang kita tinggalkan.
Saya kembali kepada pesan almarhum ayah:
_“Le, di atas ada Allah, di bawah ada tanah. Kamu di tengah, ojo rumongso duwur.”_
Di atas ada Allah, tempat kita memohon ampun, menggantungkan harapan, dan mempertanggungjawabkan perjalanan hidup.
Di bawah ada tanah, yang mengingatkan kita akan asal-usul, keterbatasan, dan akhir perjalanan setiap manusia.
Di antara keduanya, kita diberi waktu untuk menjalani kehidupan. Waktu yang seharusnya kita gunakan bukan untuk memelihara kesombongan, melainkan untuk memperbaiki diri, menguatkan keluarga, melanjutkan pengabdian, dan menanam sebanyak mungkin kebaikan.













