Dalam skala kecil rumah tangga, ketika kebutuhan melebihi dari pemasukan, maka solusi yang dituju adalah dengan utang. Tentu dengan kadar yang masih bisa dijangkau oleh pendapatan masing-masing rumah tangga.
Tentu berbeda halnya dalam lingkup negara. Banyak aspek yang harus benar-benar bisa diatur baik dari penerimaan negara maupun pengeluarannya. Namun kita lihat saat ini, negara maju maupun negara berkembang mengandalkan utang untuk pemasukan negara, sebab utang dianggap sebagai solusi cepat untuk pertumbuhan ekonomi.
Utang luar negeri menjadi salah satu pilihan yang ditempuh oleh pemerintah demi perbaikan ekonomi ditambah dalam kondisi pandemi yang melumpuhkan berbagai negara karena dampak resesi ekonomi. Seperti yang dilontarkan Menteri Keuangan, Sri Mulyani, bahwa pada masa pandemi, pemerintah harus menggelontorkan belanja negara yang lebih besar dari pendapatannya. Akibatnya, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami defisit di atas 3 persen.










