“Kemerdekaan pers bukan berarti kebebasan tanpa batas. Di tahun 2026, media diharapkan tidak boleh menjadi budak algoritma yang hanya mengejar angka kunjungan (traffic) namun mengorbankan kualitas informasi yang menjadi hak publik,” harap Edy.
Konsep “Pers Inklusif” diperkenalkan sebagai strategi jitu untuk merangkul spektrum audiens yang luas, mulai dari generasi Baby Boomers hingga Gen Alpha. Edy Riyadi berpandangan bahwa, media memegang teguh kewajiban untuk menyajikan konten yang relevan tanpa mengorbankan standar kebenaran. Ini berarti penyajian analisis data yang mendalam bagi pembaca senior, sekaligus pemanfaatan format visual yang dinamis untuk menarik perhatian generasi muda.
Sebagai kompas bagi para praktisi media dalam menavigasi tantangan masa depan, Edy menekankan lima pilar utama yang harus dijunjung tinggi:











