“KKN bukan sekadar menggugurkan kewajiban akademik, melainkan mengetuk pintu hati warga dan belajar menjadi bagian dari mereka,” ujar Albi di sela kegiatan.
Selesai Isya, giliran mimbar masjid dihidupkan. Program kerja pembinaan rohani dimulai lewat kuliah tujuh menit (kultum). Tak ada bahasa yang rumit atau ceramah yang menggurui. Para mahasiswa membawakan pesan keagamaan yang dekat dengan keseharian warga—tentang pentingnya menjaga silaturahmi, merawat keikhlasan di dusun, dan gotong royong. Senyum dan anggukan kepala warga hingga anak-anak menjadi penanda bahwa pesan sederhana itu sampai ke tujuan.
Gerak Kelompok 4 tak berhenti saat lampu masjid mulai diredupkan. Langkah kaki sembilan mahasiswa ini berlanjut menuju markas Karang Taruna Padukuhan Kandri. Di ruang tamu salah satu rumah warga yang disulap jadi tempat kumpul, obrolan mengalir tanpa jarak. Asap teh hangat dan camilan desa menyertai diskusi tentang bagaimana pemuda lokal dan mahasiswa bisa berkolaborasi: mulai dari menghidupkan kegiatan pemuda, olahraga, hingga penataan lingkungan.













